Samut BK, data yang valid merupakan tujuan utama dari sebuah pendataan, yang nantinya akan dipakai untuk segala macam kebutuhan kebijakan. Guru SAMUT in action dalam menanggapi hal tersebut khususnya guru BK yang didukung penuh oleh rekan guru yang lain. Sebut saja Ibu Pahriatie, S. Pd sebagai guru BK SAMUT siap sedia me data siswanya door to door untuk memastikan data tersebut. Kegiatan tersebut rencananya akan dilaksanakan setiap hari sampai sampai semua siswa mendapat kunjungan. Data yang real akan memastikan setiap bantuan tidak salah sasaran serta memastikan setiap kebutuhan siswa atas bimbingan oleh guru BK terpenuhi. Berikut beberapa photo kegiatan dilapangan beliau beserta tim guru yg ikut membantu.
3 September 2019
16 Juli 2019
PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH
Tahun ajaran baru 2019/2020 sudah dimulai Senin, 15 Juni 2019. Sebanyak 43 peserta didik baru SMP Negeri 1 Amuntai Utara mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagaimana diatur dalam Permendikbud 18 tahun 2016. Kegiatan MPLS di SMPN 1 Amuntai Utara dilaksanakan selama 3 hari yakni 15 - 17 Juni 2019. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan unsur guru baik sebagai panitia maupun narasumber/pembimbing dan juga dari unsur peserta didik khusunya mereka yang tergabung dalam OSIS.
Berikut Jadwal MPLS SMPN 1 Amuntai Utara Tahun Ajaran 2019/2020
![]() |
| Jadwal MPLS 2019/2020 |
Beberapa Foto kegiatan :
![]() |
| Latihan Upacara Bendera |
![]() |
| latihan Upacara Bendera |
![]() |
| Mengenalkan lingkungan sekolah |
![]() |
| Outbound |
![]() |
| penonton |
![]() |
| Outbound |
Segitu dulu ya...
10 Juli 2019
Pengukuhan dan Perpisahan 2019
Ditahun ajaran 2018/2019 ini ada sebanyak 46 siswa kelas IX SMPN 1 Amuntai Utara yang mengikuti pengukuhan dan perpisahan sebagai bagian akhir dari seluruh rangkaian kegiatan belajar di SMPN 1 Amuntai Utara.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Juli 2019 di halaman SMPN 1 Amuntai Utara.
Acara ini juga sekaligus perpisahan dengan Kepala Sekolah yang lama yakni Bapak Drs. H. Muhammad Arifin.
9 Juli 2019
UNBK SMPN 1 Amuntai Utara 2019
Pada tahun 2019 ini SMPN 1 Amuntai Utara melaksanakan UNBK untuk kedua kalinya. Sebanyak 46 peserta didik mengikuti Ujian tersebut. Untuk UNBK tahun 2019 jauh lebih siap karena sejak semester 1 kelas IX mereka sudah dicobakan dengan soal-soal tryout ujian nasional. Memasuki semester 2 kegiatan tryout lebih diintensifkan lagi.
Adapun hasil UNBK tahun 2019 ini dirangkum sebagai berikut :
1. SMPN 1 Amuntai Utara berada diperingkat ke-10 dari 61 sekolah baik SMP/MTs dan diperingkat ke-4 dari 31 SMP se-kab. HSU dengan rata-rata sekolah 53,06. Sebagai perbandingan posisi tahun 2018, SMPN 1 Amuntai Utara berada diperingkat ke-28 dari 61 sekolah baik SMP/MTs dan diperingkat ke-8 dari 31 SMP se-kab. HSU dengan rata-rata sekolah 47,06
2. Ada 2 orang yang masuk dalam 10 besar perolehan jumlah nilai tertinggi UNBK se-kab HSU
yakni peringkat ke-2 a.n NAZ'UA dan peringkat ke-5 a.n. MIZRATUL AUDAH.
3. Posisi peringkat hasil UNBK di SMPN 1 Amuntai Utara 2019 :
Peringkat ke-1 : NAZ'UA (362,5)
Peringkat ke-2 : MIZRATUL AUDAH (338,5)
Peringkat ke-3 : PUTRILIA ANGGERIYANI (323,5)
4. Peraih nilai tertinggi matematika UNBK se-kab. HSU (97,5)
Demikian informasi hasil UNBK SMPN 1 Amuntai Utara 2019.
![]() |
| Selamat dan sukses |
11 Juni 2019
MENANTI HADIRNYA MATAHARI
Karya : ERhadi
“Tujuh
tahun berlalu
hidup tanpa suami. Tak ada lagi tempatku bernaung, menyandar-kan tubuh ketika
letih, tempat mengadu manakala hati sedang risau. Bila siang hari, atau masih
bersama anak-anak dan cucu-cucuku, jiwaku utuh seperti tak pernah terjadi
apa-apa. Namun, ketika semua pulang ke tempat masing-masing, aku baru merasa terasingkan.
Peristiwa masa lalu merayapi pikiranku, masa yang padihnya tak mampu kuungkapkan
dengan kata-kata. Separuh jiwaku terbang. Gempa yang pernah menggoncang
penduduk negeri, belum sebanding dengan gempa yang meluluhlantakkan jiwaku.”
*
“Sebagai seorang perempuan normal,
aku juga merindukan suasana seperti almarhum masih ada, pergi bersama, makan
bersama,dan …. tidur bersama di kasur yang sama. Sebelum memejam mata,
berbicang seputar ana-anak dan masa depan mereka, tentang pekerjaan di kantor,
dan lain -lain. Kubayangkan kembali, bagaimana di tengah rasa kantuk yang
berat, ia masih sempat membelai rambutku yang tergerai di bantal dan mengucapkan kata-kata
yang mungkin hanya kami yang tahu maknanya.”
Ketika menjelang subuh, ia sudah berdiri di
pinggir ranjang dengan buju koko dan
sarung yang rapi. Diucapkannya kembali kata-kata serupa yang membuatku ingin
terus berlama-lama di sampingnya. Ia sangat pandai memanjakanku, membuat diri
ini tak mungkin berlabuh ke lain hati meski digoda seribu pangeran dari negeri
seberang. Duhai, mungkingkah romatisme seperti itu kembali kukecap sampai
jasadku menjadi kaku.
*
“Di puncak lamunan, kupeluk guling
yang biasa didekap suamiku. Kuciumi dengan segala kemesraan; ketenggelam
wajahku padanya dan kusiram dengan seluruh air mata. Tangisku makin jadi,
tangis kerinduan seorang perempuan yang pernah mereguk secawan madu kasih yang
murni.” kenang Bu Erma.
*
Suatu ketika,saat ia ziarah ke makam
ayah dan ibunya di Banjarmasin, tiba-tiba saja di tengah jalan menuju rumah,
kakak perempuannya barkata,
“Er, sebaiknya kamu menikah lagi!’
Bu Erma cuma bisa diam. Ia
belum mampu menjawab ya atau tidak
karena di kepalanya saat ini ada dua kekuatan yang saling tindih untuk
menguasai kakinya buat melangkah. Di depan ada dua jalan yang sama-sama sulit
untuk ia lewati.
*
“Er, hari ini kamu tinggal sendiri
di rumah. Entah sampai kapan kamu bisa nyaman men-
jalani kehidupan seperti saat
ini.” sambung kakanya sudah sampai di rumah.
“Kamu hidup di hari ini, bukan di
hari tujuh tahun yang lalu,Er. Kita ini
sudah tidak muda
lagi. Artinya kita tidak sekuat
dahulu memecahkan setiap persoalan yang hadir. Bagi
kakak, kamu itu memelukan seorang lelaki yang
setiap saat mau membuka dadanya
untukmu ; tempatmu menumpah berbagai
persoalan. Apalagi saat ini tinggal satu saja
anakmu yang masih dalam
tanggunganmu. Kakak rasa, itu bukan halangaan untuk
membuka kembali pintu rumahmu
buat seorang laki-laki yang baik.
*
Sambil mengangkat wajahnya,”Itulah
masalahnya,Kak. Aku takut kadar cintaku terkurangi pada anak-anakku ketika
hadirnya seorang lelaki yang baru di
rumahku. Di sisi lain, aku pun tak mau
jadi istri yang durhaka, lantaran kurang perhatian pada suami manakala
anak-anakku membutuhka aku.”
“Kakak paham itu. Kita ini sama-sama perempuan, adikku. Apakah tidak
ada kerinduan sedik pun di hatimu bagaiman
indahnya saat menunggui suamimu makan, menambahkan nasi yang ada di piringnya;
menuangkan air ke gelasnya yang sudah berkurang. Itu ladang pahala,Er. Kakak ini meski sudah sama-sama tua, tetapi kakak masih
mencoba sedapat-dapatnya melakukan itu. Kusambut Mas Herman di depan pintu sehabis
ia pulang kerja atau bepergian;
kusiapkan handuk dan sikap gigi saat ia mandi; kurapikan temapt tidur manakala
ia sudah mengantuk; kuhidupkan pula kipas angin ketika ia kegeraha…. atau kuselimuti
manakala ia kedinginan. Pokoknya, semua kucurah, kutumpah habis untuknya,
imamku, kekasihku yang telah memberiku
segalanya. Ayolah adikku!”
Suasan hening beberapa saat. Bu Erma
mengambil selembar tisu buat wajahnya yang sudah mulai membasah. Ia permisi mau
ke kamar. Di kasur Bu Erma melemparkan badannya dengan posisi tengkurap. Dadanya
sesak. Ia perturutkan saja air matanya yang jatuh berderai. Di luar, di ruang keluarga, Bu Husna, kakak Bu
Erma mamatikan TV, lalu menyusul Bu Erma ke kamar almarhum ibu mereka.
Bu Husna membelai rambut adiknya.
“Er, maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud
lain, semata-mata hanya ingin melihatmu
bahagia. Kakak ingin matahati itu kembali menyinari rumahmu hingga ke
sudut-sudut yang gelap.
Bu Erma membalikan badan, lalu
duduk. Mereka berpelukan pertanda saling menya-
yangi.
Bu Erma melepaskan pelukannya. Ia
menyimpul rambutnya yang tadi tergerai. Lalu…
“Aku pertimbangkan saran kakak.”
Menerima jawaban yang begitu cepat,
Bu Husna tersenyum bahagia.
“Bagus. Kakak senang mendengarnya.
Namun,bila sudah ada keinginanmu ke arah itu,
lakukan dulu komunikasi pra
nikah, artinya katakan saja padanya dengan terus terang
bahwa saat ini kamu masih ada
tanggungan satu anak yang terus memerlukan
perhatian. Katakan saja! Jangan
ada yang ditutupi-tutupi. Jika dia benar- benar meng-
inginkanmu menjadi
istri, dia pasti mau menerima kenyataan itu.”
*
Keesokan harinya Bu Erma pulang. Ia harus
turun kerja. Di kantor sudah menunggu
seabrik pekerjaan.
*
Larut malam, sahabis ritual Haulan suaminya,
Bu Erma menatap foto keluarga semasa almarhum masih ada, foto yang tergantung
di ruang tengah. Matanya fokus pada
seorang laki-laki yang ada di foto figura
tersebut. Lama sekali ia mematung, seolah- olah ia sedang bicara
padanya. Tak puas, lalu ia turun. Dengan jari gemetar dan dengan kalimat
terpatah-patah….
“ Mas, sampai saat ini aku masih
istrimu. Aku yakin kamu tahu, bagaimana kegelisahanku ketika kerinduan itu datang.
Seratus kali aku bertekat untuk tidak mencari penggantimu, seratus kali pula
kerinduan itu hadir,
*
Di luar sepi sekali, sesekali
terdengar kepak kelalawar yang mencari makan. Langit mendung, purnama yang
semestinya sudah muncul, kini disembunyikan awan pekat. Burung pungguk yang
biasanya bekerja membuatkan rumah untuk rembulan kekasihnya, malam ini tahu entah di mana. Tak lama hujan rintik
pun turun, renyai menyentuh atap rumah. Dari dari kejauhan, di pematang sawah
sayu-sayup terdengar lolong anjing liar yang mungkin sedang mengejar tikus
sawah. Atau menurut kepercayaan segelintir orang, ia mungkin sedang melihat
makhluk
yang tak kasat mata.
*
Jam
dinding berdenting dua kali. Di tengah rasa kantuk yang masih berat,
samar-samar pintu kamar diketuk. Dalam hati Bu Erma, “Ada apa Salma subuh-subuh
begini?” Bu Erma bangun sambil menyimpul rambut, lalu beranjak menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, ia terperanjat, kaget bukan kepalang.
“Lho, kamu ,Mas. Kapan ke sini.”
Lelaki yang berpakaian serba putih
itu tidak menjwab. Ia hanya tersenyum, kemudian berbalik ; berjalan memasuki
kamar-kamar yang dulu ditempati oleh anak-anak Bu Erma. Bu Erma merasa panasaran,
ia iringi saja di belakang. Terus, ia berjalan mengitari ruangan lain. Sampai
di ruang tengah, ruang yang dulunya menjadi tempat keluarga bercengkerama dan
menonton televisi, ia berhenti. Lalu menengadah, memandangai sebuah foto
keluarga yang tergantung di dinding, di
atas lemari. Cukup lama lelaki itu
berdiri dan menengadah. Akan tetapi, tak sepenggala kalimat pun keluar dari
bibirnya. Melihat keadaan demikian, Bu Erma makin penasaran. Barangkali merasa
cukup, ia berbalik menghadap Bu Erma dengan kembali memberi sebuah senyuman.
Kedua tangannya melepas surban hijau yang sejak tadi melingkar di kedua
pundaknya. Surban tersebut lalu dikalungkannya ke lihir Bu Erma dengan sangat
rapi. Terus, ia letakkan kedua tangannya di pundak Bu Erma sambil mengangguk
–ngangguk seolah-olah memberi isyarat sesuatu untuk Bu Erma. Selanjut ia
berbalik dan melangkah menuju pintu depan. Bu Erma memanggil.
“Mas! Mau ke mana, mas?
Lalaki itu tak menjawab. Ia terus
saja melangkah. Bu Erma memanggil lebih keras
“Mas, mau ke mana lagi? inikan
rumahmu, rumah kita, Mas.”
Kedua
tangan Bu Erma menarik baju belakang laki-laki tersebut. Namun, tangannya tak
menggapai apa-apak. Orang yang berpakaian serba putih terus berjalan. Bu Erma
berteriak mencegahnya.
“ Maaaaaas! Jangan pergi lagi!
Jangan tinggalkan aku lagi,Mas!” keras
sekali.
“Bu.. Ibu,! Ada apa, Bu? Kok Ibu ada
di sini?” tanya Salma kaget, berlari dari
kamar sebelah. Salma adalah anak bungsu Bu Erma yang pulang kampung
karena lagi libur kuliah.
Bu Erma masih dalam sebuah ilusi. Salma mengangkat kedua lengan
ibunya yang terduduk di lantai. Ia bimbing menuju kursi tamu. Setelah itu ia berlari ke dapur mengambil segelas air
putih.
“ Minumlahlah, Bu”
Setelah mulai tenang, ”Bu, coba cerita kepada
Salma. Tadi ibu teriak-teriak, apa sebe-
narnya
yang terjadi pada Ibu?”
“Bapakmu, Nak. Bapamu datang menemui
ibu. Bapamu tersenyum pada ibu.” sambil terisak.
“Lalu, mengapa Ibu samapai di sini.”
Tanya Salma ingin jelas lagi.
“ Ibu mengejar ayahmu. Makanya ibu
sampai di sini.”
“Ibu lagi mengigau.”
‘Tidak,Nak. Ini benar-benar nyata.
Ini buktinya.”
Bu erma menunjukkan selembar surban
hijau yang dulu digunakan almarhun saat ke masjid, pengganti sajadah.
“Aneh sekali, tapi ini kan surban
ayah yang ibu simpan di lemari pakaian ibu.” ucap Salma membatin.
Keesokan harinya,Minggu, Bu Erma
mengajak Salma ke makam suaminya yang berjarak
kurang
lebih tiga kilometer. Di atas pusara keduanya berdoa untuk almarhum.
*
Sepulang dari makam, Bu Erma kembali
mengambil surban tadi. Ia tak habis pikir. “Kok bisa sih mimpiku seperti
nyata. Padahal surban ini aku simpan rapi di lemari.
Orang-orang pasti tidak percaya bila aku ceritakan. Ah, sudahlah, masa
bodoh dengan
mereka.
Tapi…apa maksudnya Mas Syahid memberikan ini padaku? Apakah surban
hijau
ini sebagai isyrat darinya bahwa ia mengizinkanku untuk menikah lagi.” Lama
sekali Bu
Erma merenung sendirian dalam kamar.
“Jika memang ini suatu isyarat,
apakah aku benar-benar siap lahir batin untuk berumah
tangga
lagi? Dan seperti apa wujud laki- laki yang boleh masuk kamarku lagi?” Ibu Erma
bertanya pada dirinya sendiri.
*
Menjelang tidur Bu Erma ke belakang mengambil
air wudu. Ia salat istiharah, memohon
petunjuk,
”Yaa Rab, Engkaulah tempatku bermohon
segala sesuatu. Tolong beri hamba-Mu ini
isyarat, jalan mana yang mesti aku pilih!
Andai Engkau menginginku untuk menikah
lagi, datangkan ke
hadapanku seorang laki-laki yang tak kurang salehnya dibanding
almarhum. Laki-laki
yang bisa kujadikan imam dan tempatku menambatkan jiwa- raga.
Laki-laki yang tidak hanya
mencintaiku, tapi juga mencintai anak dan cucu-cucuku. Dan
yang tak kalah pentinya Yaa Allah,
ibarat pohon, hijaukan kembali daun jiwaku
ini agar
aku bisa berbunga lagi seperti awal
aku menikah dengan almarhum. Kiranya semerbak
harum bungaku nanti bisa
kupersembahkan kepadanya di setiap tarikan napasku.
Aamin!”
**
TERSANDERA BAYANG-BAYANG PHP
Karya : ErHaDi
Januari 2019. Siang itu cuaca begitu
terik, padahal dalam siklus tahunan,Januari merupakan bulan musim hujan. Aku baru beberapa menit duduk di sofa
ruang tamu dengan segelas teh yang tersedia tiap hari kerja. Lumayan lelah. Tiga
jam pelajaran aku berdiri di depan kelas 9B membedah DETIK-DETIK, buku
rangkuman materi Kisi-Kisi Ujian Nasional tahun ini. Baru dua tiga seduhan
kuhirup pelumas tenggorokan itu, Bu Yeti datang menemaniku ngobrol seputar
anak-anak yang masih ada ketahuan merokok ketika menuju dan pulang sekolah.
Ceritanya kutanggap seperlunya, maklum aku juga lagi berpikir serius, bagaimana
kiat agar siswa kelas sembilan yang berjumlah empat puluh lebih ini lulus
dengan nilai lebih bagus dari tahun lalu.
Belum
lima menit dialog kami berjalan, Bu Yeti yang merupakan guru BK, mendadak
beralih topik pembicaraan. Sambil sedikit menggeser tempat duduknya, ia membuka
kata…
“Pak!”
“Ya, ada apa, Bu?” jawabku singkat.
Siang itu kantor lagi agak sepi. Sebagian guru masuk kelas dan yang lagi lagi
tugas luar, mengikuti MGMP di kabupaten.
“Tolong bantu saya, Pak!”
“Iya, apa yang bisa kubantu,Bu.?”
“Begini, Pak,kemarin ayah dan ibu meminta saya untuk segera
menikah,kebetulan ada
lelaki yang berhasrat kepada saya.
“Wah, bagus dong. Berarti doaku terkabul. Lalu….?”
“Saya bingung, soalnya saya belum mengenal lebih jauh
kepribadian orangnya. Lagi pula
saya belum ada rasa padanya.”
“ Ah itu soal gampang. Bukankah
cinta itu bisa datang belakangan, alias sudah menikah.
Pacaran yang
halal itu adalah pacaran setelah ijab- kabul. Yah, istilah lainnya bulan
madu. Bu Yeti, cinta kita
terhadap pasangan bisa saja mengecambah
bila mendapat
sebuah rangsangan berupa perhatian yang cukup, pengertian, pandai
mengalah dan,
lain-lain. Yang tak kalah penting kamu pikirkan saat ini adalah, apakah maunya laki-
laki itu padamu didasarkan atas
sebuah ketertarikannya pada
kepribadianmu …. atau
hanya sekadar ingin hidup
menumpang pada kemapanan ekonomimu.”
Bu Yeti diam beberapa saat,
sepertinya dia sedang mencerna kata-kataku tadi.
Sementara
menunggu tanggapannya, kuraih gelas
minuman yang ada di depanku.
“Inilah masalahnya,Pak. Saya
benar-benar dihadapkan pada situasi yang serba sulit un-
tuk diputuskan. Tadi pagi, saat
sarapan,bapak kembali meminta kesediaan saya untuk
menerima lamaran itu. Saya hanya diam, takut bapak dan
ibu kecewa.
‘”Ti, dulu kamu menolak lamaran Darma dengan alasan kamu ingin membantu ayah
membiayai kedua adikmu yang masih kuliah. Nah,
sekarang, apalagi,Ti. Adikmu yang
perempuan sudah menikah.
Sementara Rahman sudah bekerja. Tidak ada lagi yang
menghalangimu untuk berumah
tangga.” ujar Ayah dengan nada mendesak.
“Bapa dan mamamu ini sudah cukup
sabar,Ti, mendengar suara-suara sumbang di luar
sana
tentang kamu.” timpal Mama.
“Sebenarnya saya mencoba menyelami
perasaan mereka berdua,Pak. Hati saya lagi
terbelah. Di satu sisi saya
tidak ingin membuat orang yang telah
melahirkan dan mem-
besarkan saya tersakiti oleh sikap saya. Namun, di sisi yang saya juga
punya hak untuk
menentukan pilihan.”
“Sudah, jika begitu masalahnya, kamu minta tempo untuk
berpikir. Lakukan istiharah,
mengadulah kepada Yang Mahatahu akan
segala persoalan. Setelah itu kamu baru
mengambil sikap, merima atau menolak
dengan manis. Andai dalam istiharah hatimu
terbuka untuknya, maka saranku setelah lamaran itu dilakukan
kamu wajib melakukan
MoU, yaitu sebuah perjanjian.
“Maksudnya,Pak?” ia menatapku
serius.
“Sampaikan kepada keluarga meraka bahwa kamu
ini adalah seorang PNS yang terikat
dengan
sumpah dan aturan. Misalkan dalam hal waktu, kamu tidak bisa diatur seke-
hendak
suamimu bila sudah menikah. Sebagai contoh, suamimu tidak bisa memaksa-
kan makan siang bersamamu tepat sehabis zuhur atau seperti kebiasaan
orang kam-
pung yang makan pulang dari sawah atau dari kebun. Katakan pada mereka
bahwa se-
jak
pukul setengah delapan sampai dengan
pukul setengh tiga kamu tersandera di
sekolah
karena itu jam kerja seorang pegawai negeri. Bila ia menginginkan selain itu,
maka sebaiknya ia mencari perempuan lain yang
bukan pengawai negeri.
*
Suasana
hening sejenak. Kulihat wajahnya sedikit tertunduk. Lalu….
“Andai
dalam istiharah nanti ada isyarat untuk menolak, apa yang mesti saya katakana
Kepada bapak dan ibu, juga kepada keluarga sebelah?”
“Begini.
Katakan saja pada ortumu bahwa perkawinan itu mesti dilandasi sebuah kese-
pakatan.
Calon suamimu wajib menerimamu secara apa
adanya, bukan seadanya.
Perkawainanmu nanti – jika terjadi- tidak sebatas
mengubah status dari Nona ke Nyo-
Nya,
atau hanya ingin mendapatkan keturunan. Katakan pada ortumu bahwa kamu
lebih bahagia menyandang pridikat perawan berumur
tak kawin-kami ketimbang
Maaf,
Bu Yeti, mungkin aku terlalu mengguruimu!”
“Oh,
tidak,Pak.” ia seperti terperanjat.
“Saya suka diberi solusi. Bapak sudah saya
anggap seperti
keluarga sendiri.
*
Kami
sama-sama menghela napas.
“Nah,
dengan keluarga sebelah gimana caranya menolak?”
“Katakan saja pada mereka bahwa saat ini kamu
belum bisa menjadi istri yang baik. Jadi
lebih
baik tidak diterima daripada nantinya berpisah, bersimpang jalan.”
Bu
Yeti, menurut asumsiku, janda ditinggal mati jauh lebih terhormat dibandingkan
dengan
janda dicerai hidup.
*
Aku diam.
Kubiarkan kembali ia membedah bahasaku tadi. Aku berdiri menekan tombol on
kipas angin yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan kami. Andai saja diberii
izin, mungkin saja ia ikut nimbrung
diskusi kami yang sudah berjalan
lebih dari seperempat jam.
Setelah kurasa cukup., aku
lanjutkan lagi.
“Bu Yeti, aku tegaskan lag,
perkawinan itu harus dilandasi sebuah kesepakatan. Sepakat
membagi rasa, sepakat saling
jujur, dan sebagainya.
“Perkawinan itu bukanlah akhir perjuangan
cinta sepasang kekasih, melainkan awal
kesepakatan untuk menyibak semua
rintangan yang siap menghadang. Ini juga pernah
kusampaikan kepada anak lelakiku
menjelang pernikahanya tempo hari. Hidup
ini
penuh dengan tikungan tajam. Bila kita kurang hati-hati,
kita bisa celaka karenanya.
Babak belur yang kita derita
belum tentu sembuh barang seminggu.
Lebih-lebih dalam berumah
tangga. Suami sebagai sopir wajib diingatkan oleh sang istri
yang duduk di samping. Jadi,
seorang istri bukanlah penumpang yang bisa tidur seenak-
nya. Ia tak ubahnya seorang
napigator dalam dunia balap mobil, yang selalumemberi-
kan
informasi keadaan jalan di depan. Aku rasa Ibu mengerti yang kumaksud?”
Ia mengangguk.
”Ya,Pak.”
*
Pembicaraan terputus ketika ada tamu yang mencari Kepala Sekolah.
Menjelang pulang, menuju parkiran…
“Malam nanti saya akan lakukan saran Bapak tadi.”
“Ya,Bu. Moga ada solusi.” aku membalas, lulu berpisah.
*
Seminggu
kemudian….
Di
ujung malam,menjelang subuh, dalam untaian doa untukku dan
keluargaku,seketika terbayang wajah Bu
Yeti. Tanpa dipandu lidahku langsung merangkai doa untuknya.
“Ya Rabb. kutahu Kau tak pernah tidur. Kau
tahu yang sedang menimpa diri sahabatku,
Bu
Yeti. Berikan pilihan sebaik-baik pilihan untuknya. Rabb, cinta-Mu begitu agung
bagi
kami. Berikanlah segegam cinta-Mu sebagai modal kami untuk mencintai-Mu
lebih
banyak lagi” Kututup doa itu
dengan beberapa tetes air mata.
*
Keesokan
harinya aku turun lebih awal mengingat hari itu aku tugas piket bersama Pa Rahmadi.
Kebiasaan kami di depan pintu masuk menyalami siswa yang akan menuju kelas
masing-masing. Agar wudu kami tak batal menyalami murid lawan jenis, kami
menggunakan sarung tangan tipis. Pukul tujuh tiga puluh semua siswa berbaris di
depan kelas dengan senandung lagu Indonesia Raya tiga oktaf . Siswa masuk dan
berdoa yang dilanjutkan membaca surat-surat pendek.
Di
meja piket aku menulis catatan harian seputar kegiatan hari itu, termasuk siswa
yang tidak hadir.
Dari
arah parkeran guru, masih agak jauh, Bu Yeti menyapaku.
“Pak,Hadi!” sambil berjalan ke arahku dengan raut wajah enteng.
“Oh,Ibu. Gimana kabarnya,nih? Baik-baik saja,kan?” jawabku sambil
menadai siswa
yang absen.
“Alhamdulillah,nanti kita bicara.” sambil tersenyum,
terus berlalu masuk ke ruang guru meletakkan tas kerjanya.
“Ya,Bu.”
*
Hari ini aku mengajar cuma dua jam, di kelas delapan, agak siang. Seperti
biasa kuhidupkan on Samsung Androit-ku. Kubuka youtobe mencari ceramah ustaz-ustaz idolaku, semisal UAS, Ustaz Adi
Hidayat,dll. Di ruang guru sedikit sepi kerana enam orang guru masuk
Kelas, ada yang
di ruang komputer, dan sebagiannya
sibuk dengan HP-nya masing-masing.
Dari
arah pintu ruang guru, Bu Yati memanggilku.
Aku beranjak menemuinya. Aku pikir pasti ada kaitannya dengan persolan kemarin.
Oh, ternyata benar. Bu Yeti mau
menceritakan
perihal hasil
istiharahnya..
“Pak, saya sudah lakukan apa yang Bapak sarankan.Saya berpasrah meninta petunjuk.
Ternyata
hasilnya hati saya masih terasa berat mengabulkan harapan lelaki itu, juga
harapan
ortu saya.” Saya sudah berbicara dengan ayah dan ibu.”
“
Bagaimana tanggapan mereka? desakku sudah tak sabar.
“Saya
utarakan di hadapan ayah dan ibu semua yang Bapak uraikan tempo hari. Kedua-
nya bisa memahami.
“Iya,Yeti,
bagaimanapun yang menikah adalah kamu, bukan kami. Jadi yang bisa
menangkap sinyal negatif ke depan adalah kamu sendiri. Kami juga tak
rela melihatmu
menderita dalam rumah tanggamu nanti.” ujar ayah.
“Ibu
sambil mengusap air mata, `Benar apa kata ayahmu,nak. Kami ingin melihatmu
bahagia seperti adik perempuanmu. Moga kami diberi panjang umur sehingga
bisa
melepasmu dalam bahtera rumah tangga dengan lelaki pilihanmu, lelaki
yang men-
cintaimu
lahir batin, bukan lelaki yang hanya pandai mendustaimu.” kata Bu Yeti
menirukan ibunya.
*
“Pak,
malam yang lalu, selesai salat isya aku
masuk ke kamar Ibu. Beliau masih duduk
di selembar sajadah. Saya tunggu
sampai Ibu selesai berdoa. Saya peluk ibu erat-erat,
sambil
saya bersiki, “Bu, maafka anakmu ini yang sudah banyak menyusahkanmu.”
“Tidak,nak.
Justru kami yang berdosa padamu, terlalu memaksakan kehendak.Kami
lupa bahwa kamu sudah dewasa.”
“Hati
saya makin luluh,Pak.Terus pagut dan saya ciumi pipinya yang sudah mulai
keriput .Saya menangis sejadi-jadinya.Jiwa
saya terbang entah ke mana. Tak saya
sadari
,saya sudah berada dalam pangkuan Ibu. Ia belai rambut saya yang tergerai.
“Ibu
sangat sayang kamu,Nak”
“Saya
juga,Bu”
Saya tengadah wajahnya…dan beberapa butiran
bening jatuh di atas wajah saya.”
*
Hening sejenak. Aku ikut terharu, hanyut dalam
alur cerita Bu Yeti.
“
Pihak sebelah sudah kamu sampaikan juga dalih yang sama?” kusambung lagi.
“ Iya,Pak.
Saya langsung telepon adiknya yang sejak awal menjadi wakil dari keluarga
mereka. Intinya, adiknya bisa
menerima alasan yang saya kemukakan. Di akhir telepon
tersebut
saya tak lupa berharap agar hubungan antara kami tetap baik seperti sedia
kala. Sebenarnya kami masih ada hubungan keluarga dengan mereka. Lelaki
itu kakak
kelas saya,lho,Pak, di MTs dulu.”
Ah, jika begitu, baguslah. Saya juga ikut lega.”
*
Jika
boleh jujur, aku sebenarnya gembira andai ada titik temu keduanya. Akan tetapi,
ya apa mau dikata jika memang Tuhan sudah berkehendak demikian.
Sampai sekarang aku terus menerawang, mencoba mencari tahu, apa sih sebenarnya
yang membuat hati Bu Yeti tertutup terhadap laki-laki tersebut, termasuk
seorang duda beranak satu yang telah menyatakan ketertarikannya lewat WA yang
Ibu Yeti tunjukkan padaku. Meski tak valid, kucoba membuat sebuah kesimpulan
bahwa ketertutupan hati Bu Yeti terhadap beberapa laki-laki - tak kurang dari
empat atau lima orang - adalah: Pertama, ia sulit melupakan kesan cinta
pertamanya yang ia dapatkan dari seseorang, meski kini orang tersebut tak ada
di sampingnya. Ini barangkali makna peribahasa Arab, HUBBUL AWWALU KANNAKSI
`ALAL HAJAR ( Cinta pertama itu laksana mengukir di atas batu). Kedua, ia trauma lantaran dihianati atau
didustai berkali – kali oleh laki-laki yang tadinya sempat menyemai benih kasih,
tetapi berbuah PHP. Ketiga, di otaknya tertancap sebatang jarum kengerian yang
disebabkan adanya potrit suram rumah
tangga orang dekatnya atau sahabatnya. Dengan demikian, Ia terus berhalusinasi
bayangan hitam yang menghantui setiap ada laki-laki yang ingin dekat dengannya.
*
Beberapa
hari yang lalu saat tasmiahan kepenakannya kubisikan ditelinganya ketika ia
berjungku meletakan beberapa panganan di samping kananku.
”Cepat
kawin agar bisa seperti ini!” Dibayarnya bisikan itu dengan seulas senyum yang
mungkin bisa meluluhkan hatinya sendiri
nanti. Semoga….
**

















































