SELAMAT DATANG DIWEBSITE RESMI SMPN 1 AMUNTAI UTARA

11 Juni 2019

TERSANDERA BAYANG-BAYANG PHP


Karya : ErHaDi

Januari 2019. Siang itu cuaca begitu terik, padahal dalam siklus tahunan,Januari merupakan bulan  musim hujan. Aku baru beberapa menit duduk di sofa ruang tamu dengan segelas teh yang tersedia tiap hari kerja. Lumayan lelah. Tiga jam pelajaran aku berdiri di depan kelas 9B membedah DETIK-DETIK, buku rangkuman materi Kisi-Kisi Ujian Nasional tahun ini. Baru dua tiga seduhan kuhirup pelumas tenggorokan itu, Bu Yeti datang menemaniku ngobrol seputar anak-anak yang masih ada ketahuan merokok ketika menuju dan pulang sekolah. Ceritanya kutanggap seperlunya, maklum aku juga lagi berpikir serius, bagaimana kiat agar siswa kelas sembilan yang berjumlah empat puluh lebih ini lulus dengan nilai lebih bagus dari tahun lalu.   
            Belum lima menit dialog kami berjalan, Bu Yeti yang merupakan guru BK, mendadak beralih topik pembicaraan. Sambil sedikit menggeser tempat duduknya, ia membuka kata…
            “Pak!”
            “Ya, ada apa, Bu?” jawabku singkat. Siang itu kantor lagi agak sepi. Sebagian guru masuk kelas dan yang lagi lagi tugas luar, mengikuti MGMP di kabupaten.
            “Tolong bantu saya, Pak!”
            “Iya, apa yang bisa kubantu,Bu.?”
            “Begini, Pak,kemarin ayah dan ibu meminta saya untuk segera menikah,kebetulan ada
              lelaki yang berhasrat kepada saya.
            “Wah, bagus dong. Berarti doaku terkabul. Lalu….?”
            “Saya bingung, soalnya saya belum mengenal lebih jauh kepribadian orangnya. Lagi pula
               saya  belum ada rasa padanya.”
            “ Ah itu soal gampang. Bukankah cinta itu bisa datang belakangan, alias sudah menikah.
               Pacaran yang halal itu adalah pacaran setelah ijab- kabul. Yah, istilah lainnya  bulan 
                madu. Bu Yeti, cinta kita terhadap pasangan bisa saja mengecambah  bila mendapat
                sebuah rangsangan  berupa perhatian yang cukup, pengertian, pandai mengalah dan,
                lain-lain.  Yang tak  kalah penting kamu pikirkan  saat ini adalah, apakah maunya laki-
                laki itu padamu didasarkan atas sebuah ketertarikannya  pada kepribadianmu …. atau
                hanya sekadar ingin hidup menumpang  pada kemapanan ekonomimu.”
           
               Bu Yeti diam beberapa saat, sepertinya dia sedang mencerna kata-kataku tadi.
Sementara menunggu tanggapannya, kuraih  gelas minuman yang ada di depanku.

            “Inilah masalahnya,Pak. Saya benar-benar dihadapkan pada situasi yang serba sulit un-
              tuk diputuskan. Tadi pagi, saat sarapan,bapak kembali meminta kesediaan saya untuk
              menerima  lamaran itu. Saya hanya diam, takut bapak dan ibu kecewa.


            ‘”Ti, dulu kamu menolak lamaran  Darma dengan alasan kamu ingin membantu ayah
              membiayai  kedua adikmu yang masih kuliah. Nah, sekarang, apalagi,Ti. Adikmu yang
              perempuan sudah menikah. Sementara Rahman sudah bekerja. Tidak ada lagi yang
              menghalangimu untuk berumah tangga.” ujar Ayah dengan nada mendesak.
            “Bapa dan mamamu ini sudah cukup sabar,Ti, mendengar suara-suara sumbang di luar
              sana tentang kamu.” timpal Mama.

            “Sebenarnya saya mencoba menyelami perasaan mereka berdua,Pak. Hati saya lagi
               terbelah. Di satu sisi saya tidak ingin membuat  orang yang telah melahirkan dan mem-
              besarkan saya tersakiti oleh sikap saya. Namun, di sisi yang saya juga punya hak untuk
              menentukan pilihan.”
            “Sudah, jika begitu masalahnya, kamu minta tempo untuk berpikir. Lakukan istiharah,
              mengadulah kepada Yang Mahatahu akan segala persoalan. Setelah itu kamu baru
              mengambil sikap, merima atau menolak dengan manis. Andai dalam istiharah hatimu
              terbuka untuknya,  maka saranku setelah lamaran itu dilakukan kamu wajib melakukan
              MoU, yaitu sebuah perjanjian.
              “Maksudnya,Pak?” ia menatapku serius.
              “Sampaikan kepada keluarga meraka bahwa kamu ini adalah seorang PNS yang terikat
              dengan sumpah dan aturan. Misalkan dalam hal waktu, kamu tidak bisa diatur seke-
              hendak suamimu bila sudah menikah. Sebagai contoh, suamimu tidak bisa memaksa-
              kan makan siang bersamamu tepat sehabis zuhur atau seperti kebiasaan orang kam-
              pung yang makan pulang dari sawah atau dari kebun. Katakan pada mereka bahwa se-
              jak pukul setengah delapan  sampai dengan pukul setengh tiga kamu tersandera di
              sekolah karena itu jam kerja seorang pegawai negeri. Bila ia menginginkan selain itu,
              maka sebaiknya ia mencari perempuan lain yang bukan pengawai negeri.
                                                                        *
              Suasana hening sejenak. Kulihat wajahnya sedikit tertunduk. Lalu….

             “Andai dalam istiharah nanti ada isyarat untuk menolak, apa yang mesti saya katakana
               Kepada bapak dan ibu, juga kepada keluarga sebelah?”
             “Begini. Katakan saja pada ortumu bahwa perkawinan itu mesti dilandasi sebuah kese-
              pakatan. Calon suamimu wajib menerimamu secara  apa adanya, bukan seadanya.
              Perkawainanmu nanti – jika terjadi- tidak sebatas mengubah status dari Nona ke Nyo-
              Nya, atau hanya ingin mendapatkan keturunan. Katakan pada ortumu bahwa kamu
              lebih bahagia menyandang pridikat perawan berumur tak kawin-kami ketimbang
              menjadi janda yang dipandang sebelah mata.”



              Maaf, Bu Yeti, mungkin aku terlalu mengguruimu!”
             “Oh, tidak,Pak.” ia seperti terperanjat.  “Saya suka diberi solusi. Bapak  sudah saya
              anggap  seperti keluarga sendiri.
                                                                        *
              Kami sama-sama menghela napas.

             “Nah, dengan keluarga sebelah gimana caranya menolak?”
              “Katakan saja pada mereka bahwa saat ini kamu belum bisa menjadi istri yang baik. Jadi
              lebih baik tidak diterima daripada nantinya berpisah, bersimpang jalan.”

              Bu Yeti, menurut asumsiku, janda ditinggal mati jauh lebih terhormat dibandingkan
              dengan janda dicerai hidup.
                                                                                    *
                                   
             Aku diam. Kubiarkan kembali ia membedah bahasaku tadi. Aku berdiri menekan tombol on kipas angin yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan kami. Andai saja diberii izin, mungkin saja ia ikut nimbrung  diskusi kami yang sudah berjalan  lebih dari seperempat jam.

               Setelah kurasa cukup., aku lanjutkan lagi.

            “Bu Yeti, aku tegaskan lag, perkawinan itu harus dilandasi sebuah kesepakatan. Sepakat
               membagi rasa, sepakat saling jujur, dan sebagainya.
             “Perkawinan itu bukanlah akhir perjuangan cinta sepasang kekasih, melainkan awal
               kesepakatan untuk menyibak semua rintangan yang siap menghadang. Ini juga pernah
               kusampaikan kepada anak lelakiku menjelang pernikahanya tempo hari.  Hidup ini  
               penuh  dengan tikungan tajam. Bila kita kurang hati-hati, kita bisa celaka karenanya.
               Babak belur yang kita derita belum tentu sembuh barang seminggu.
               Lebih-lebih dalam berumah tangga. Suami sebagai sopir wajib diingatkan oleh sang istri
               yang duduk di samping. Jadi, seorang istri bukanlah penumpang yang bisa tidur seenak-
             nya. Ia tak ubahnya seorang napigator dalam dunia balap mobil, yang selalumemberi-
               kan informasi keadaan jalan di depan. Aku rasa Ibu mengerti yang kumaksud?”
               Ia mengangguk. ”Ya,Pak.”
                                                                                    *
              Pembicaraan terputus ketika  ada tamu yang mencari Kepala Sekolah.

              Menjelang  pulang, menuju parkiran…
            “Malam nanti saya akan lakukan saran Bapak tadi.”
            “Ya,Bu. Moga ada solusi.” aku membalas, lulu berpisah.

                                                                                    *
              Seminggu kemudian….
             
              Di ujung malam,menjelang subuh, dalam untaian doa untukku dan keluargaku,seketika  terbayang wajah Bu Yeti. Tanpa dipandu lidahku langsung merangkai doa untuknya.
            “Ya Rabb. kutahu Kau tak pernah tidur. Kau tahu yang sedang menimpa diri sahabatku,
              Bu Yeti. Berikan pilihan sebaik-baik pilihan untuknya. Rabb, cinta-Mu begitu agung bagi
              kami. Berikanlah segegam cinta-Mu sebagai modal kami untuk mencintai-Mu lebih
              banyak  lagi” Kututup doa itu dengan beberapa tetes air mata.
                                                                                    *
             Keesokan harinya aku turun lebih awal mengingat hari itu aku tugas piket bersama Pa Rahmadi. Kebiasaan kami di depan pintu masuk menyalami siswa yang akan menuju kelas masing-masing. Agar wudu kami tak batal menyalami murid lawan jenis, kami menggunakan sarung tangan tipis. Pukul tujuh tiga puluh semua siswa berbaris di depan kelas dengan senandung lagu Indonesia Raya tiga oktaf . Siswa masuk dan berdoa yang dilanjutkan membaca surat-surat pendek.
              Di meja piket aku menulis catatan harian seputar kegiatan hari itu, termasuk siswa yang tidak hadir.
              Dari arah parkeran guru, masih agak jauh, Bu Yeti menyapaku.
            “Pak,Hadi!” sambil berjalan ke arahku dengan raut wajah enteng.
            “Oh,Ibu. Gimana kabarnya,nih? Baik-baik saja,kan?” jawabku sambil menadai siswa
              yang absen.
            “Alhamdulillah,nanti kita bicara.” sambil tersenyum, terus berlalu masuk ke ruang guru meletakkan tas kerjanya.
            “Ya,Bu.”
                                                                 *
              Hari ini aku mengajar cuma dua jam, di kelas delapan, agak siang. Seperti biasa kuhidupkan on Samsung Androit-ku. Kubuka youtobe mencari ceramah ustaz-ustaz idolaku, semisal UAS, Ustaz Adi Hidayat,dll. Di ruang guru sedikit sepi kerana enam orang guru masuk
Kelas, ada yang  di ruang komputer, dan sebagiannya sibuk dengan HP-nya masing-masing.
          Dari arah pintu ruang  guru, Bu Yati memanggilku. Aku beranjak menemuinya. Aku pikir pasti ada kaitannya dengan persolan kemarin. Oh, ternyata benar. Bu Yeti mau  menceritakan
perihal  hasil istiharahnya..
             “Pak, saya sudah lakukan apa yang Bapak sarankan.Saya berpasrah meninta petunjuk.
              Ternyata hasilnya hati saya masih terasa berat mengabulkan harapan lelaki itu, juga
                harapan ortu saya.” Saya sudah berbicara dengan ayah dan ibu.”
             “ Bagaimana tanggapan mereka? desakku sudah tak sabar.
             “Saya utarakan di hadapan ayah dan ibu semua yang Bapak uraikan tempo hari. Kedua-
               nya bisa memahami.
              “Iya,Yeti, bagaimanapun yang menikah adalah kamu, bukan kami. Jadi yang bisa
                 menangkap sinyal negatif ke depan adalah kamu sendiri. Kami juga tak rela melihatmu
                menderita dalam rumah tanggamu nanti.” ujar ayah.
              “Ibu sambil mengusap air mata, `Benar apa kata ayahmu,nak. Kami ingin melihatmu
                bahagia seperti adik perempuanmu. Moga kami diberi panjang umur sehingga bisa
                melepasmu dalam bahtera rumah tangga dengan lelaki pilihanmu, lelaki yang men-
                cintaimu lahir batin, bukan lelaki yang hanya pandai  mendustaimu.” kata Bu  Yeti
                menirukan ibunya.
                                                                                  *
              “Pak, malam  yang lalu, selesai salat isya aku masuk ke kamar Ibu. Beliau masih duduk
                di  selembar sajadah. Saya tunggu sampai Ibu selesai berdoa. Saya peluk ibu erat-erat,
                sambil saya bersiki, “Bu, maafka anakmu ini yang sudah banyak menyusahkanmu.”
              “Tidak,nak. Justru kami yang berdosa padamu, terlalu memaksakan kehendak.Kami
                lupa bahwa kamu sudah dewasa.”
              “Hati saya makin luluh,Pak.Terus pagut dan saya ciumi pipinya yang sudah mulai
                keriput .Saya menangis sejadi-jadinya.Jiwa saya terbang entah ke mana. Tak saya
                sadari ,saya sudah berada dalam pangkuan Ibu. Ia belai rambut saya yang tergerai.
              “Ibu sangat sayang kamu,Nak”
              “Saya juga,Bu”
                Saya tengadah wajahnya…dan beberapa butiran bening jatuh di atas wajah saya.”      

                                                                                    *
               Hening sejenak. Aku ikut terharu, hanyut dalam alur cerita Bu Yeti.                                                                     
             “ Pihak sebelah sudah kamu sampaikan juga dalih yang sama?” kusambung lagi.
             “ Iya,Pak. Saya langsung telepon adiknya yang sejak awal menjadi wakil dari keluarga
               mereka. Intinya, adiknya bisa menerima alasan yang saya kemukakan. Di akhir telepon
               tersebut saya tak lupa berharap agar hubungan antara kami tetap baik seperti sedia
               kala. Sebenarnya kami masih ada hubungan keluarga dengan mereka. Lelaki itu kakak
               kelas saya,lho,Pak, di MTs dulu.”
               Ah, jika begitu, baguslah. Saya juga ikut lega.”

                                                                          *
              Jika boleh jujur, aku sebenarnya gembira andai ada titik temu keduanya. Akan tetapi,
ya apa mau dikata jika memang Tuhan sudah berkehendak demikian. Sampai sekarang aku terus menerawang, mencoba mencari tahu, apa sih sebenarnya yang membuat hati Bu Yeti tertutup terhadap laki-laki tersebut, termasuk seorang duda beranak satu yang telah menyatakan ketertarikannya lewat WA yang Ibu Yeti tunjukkan padaku. Meski tak valid, kucoba membuat sebuah kesimpulan bahwa ketertutupan hati Bu Yeti terhadap beberapa laki-laki - tak kurang dari empat atau lima orang - adalah: Pertama, ia sulit melupakan kesan cinta pertamanya yang ia dapatkan dari seseorang, meski kini orang tersebut tak ada di sampingnya. Ini barangkali makna peribahasa Arab, HUBBUL AWWALU KANNAKSI `ALAL HAJAR ( Cinta pertama itu laksana mengukir di atas batu).  Kedua, ia trauma lantaran dihianati atau didustai berkali – kali oleh laki-laki yang tadinya sempat menyemai benih kasih, tetapi berbuah PHP. Ketiga, di otaknya tertancap sebatang jarum kengerian yang disebabkan adanya  potrit suram rumah tangga orang dekatnya atau sahabatnya. Dengan demikian, Ia terus berhalusinasi bayangan hitam yang menghantui setiap ada laki-laki yang ingin dekat dengannya.
                       
                                                                        *
            Beberapa hari yang lalu saat tasmiahan kepenakannya kubisikan ditelinganya ketika ia
berjungku meletakan beberapa panganan di samping kananku.  
            ”Cepat kawin agar bisa seperti ini!” Dibayarnya bisikan itu dengan seulas senyum yang mungkin  bisa meluluhkan hatinya sendiri nanti. Semoga….

             
                                                                        **

Share:

24 April 2019

SAMUT IN MURAL


Samut, 24 April 2019. Indah merupakan bahasa universal bagi sesuatu yang dianggap enak, dipandang atau di dengar. salah satu tindakan nyata dalam hal mewujudkan INDAH tersebut adalah dengan cara memadukan warna diatas dinding pagar yang semula polos. MURAL katanya...


Apa itu MURAL ?, menurut wikipedia Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya, Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar. Akhirnya 2 Blok Pagar menjadi papan lukis permanen yang penuh dengan warna.

Share:

23 April 2019

Review UNBK-2 Hari Pelaksanaan

Samut, 22 April 2017. UN sudah menjadi agenda tahunan bagi semua sekolah, persiapannya pun bermacam-macam dalam hal menyiapkan siswa/siswinya. Terlebih 2 tahun terakhir ini kami SMPN 1 Amuntai Utara telah melaksanakan UNBK secara mandiri. Persiapan yang kami lakukan adalah dengan mengadakan Try Out Sekolah berbasis komputer dengan menggunakan CBT atau Beesmart dengan harapan anak-anak tidak merasa canggung dalam hal mengoperasikan komputer yang akan digunakan untuk ujian nanti. Pihak Kabupaten pun tidak tinggal diam Try Out dari Dinas Pendidikan pun menggunakan Ujian Berbasis Komputer dengan menggunkan CBT.

Terlepas dari persiaapan yang telah dilakukan Senin tanggal 22 April 2019 Ujian Nasional Berbasis Komputerpun dilaksanakan, secara umum pelaksanaan hari pertama bisa dibilang lancar karena dari Hardware, Software, Listrik bahkan jaringan Internet Indihome tidak ada masalah, permasalahan yang ada menurut laporan siswa, pengawas dan proktor hanya pada beberapa soal yang ternyata opsi jawaban ada yang sama. Tindakan yang dilakukan adalah dengan melaporkan kasus soal di web UNBK itu sendiri & membuat berita acara dan UNBK tanggal 22 April 2019 berakhir.

Selasa tanggal 23 April 2019 UNBK hari kedua dimulai, proktor langsung disuguhkan dengan permasalahan VHD terbaca eror (dikatakan mengalami shoutdown secara tidak normal) padahal proses shotdown pada hari sebelumnya sudah sesuai dengan aturan yang ada. Setelah bekoordinasi dengan helpdesk Kabupaten Ujian sesi 1 tetap dilanjutkan dengan kondisi VHD yang bermasalah, dengan catatan jika VHD tidak bisa diperbaiki harus ganti VHD backupan hari sebelumnya. Untungnya Backupan VHD, Backupan Aplikasi serta Transfer Respon telah aktif, setelah ujian sesi 1 berakhir dari proses upload jawaban sampai pencetakan laporan tidak ada masalah. saatnya untuk memperbaiki VHD, tahapan pertama yang dilakukan tidak langsung mengganti VHD tapi kita coba memaksimalkan di software lain. Hal yang dilakukan adalah merestart server mengganti exam admin dengan yang fresh, kita coba tunggu prosesnya dan ternyata pesan erorpun hilang. Sesi 2 pun dilanjutkan dengan tidak mengganti VHD.

Sampai artikel ini diposting Ujian Sesi 2 masih berlanjut, perjuangan Panitia UNBK masih berlanjut.
Share:

25 Februari 2019

LOGO SMPN 1 AMUNTAI UTARA

Untuk kepentingan bersama dengan ini upload logo sekolah kami.

Share:

17 Februari 2019

BERLAGA DI SMANSA CUP 2019

SMAN 1 Amuntai-Tim Futsal SMPN 1 Amuntai Utara kembali berlaga untuk memeriahkan kejuaraan SMANSA CUP 2019. Kali ini tim futsal SMPN 1 Amuntai Utara menurunkan 2 tim terbaiknya, yaitu Tim futsal A dan Tim Futsal B

Pada Minggu, 17 Pebruari 2019 kedua tim akan bertanding masing-masing melawan MTs Al Ukhuwah dan SMPN 1 Danau Panggang. 

Info terakhir pertandingan Babak 1, Tim Futsal A SMPN 1 Amuntai Utara kalah  dari MTs Al Ukhuwah. Sedangkan Tim Futsal B SMPN 1 Amuntai Utara menang melawan SMPN 1 Danau Panggang.

Tim Futsal B SMPN 1 Amuntai Utara terus melaju ke babak perempat final setelah menumbangkan MTs Panyiuran dengan skor 1 - 0. Sayang kiprah Tim Futsal B SMPN 1 Amuntai Utara harus berakhir di babak semifinal setelah kalah 2 - 3 melawan SMPN 4 Amuntai. Semoga dalam perebutan juara 3 tim Futsal B SMPN 1 Amuntai Utara dapat membuat hasil yang baik. Bravo...

Selalu menampilkan yang terbaik untuk nama SMPN 1 Amuntai Utara. Tanamkan semangat pantang menyerah, junjung tinggi sikap sportivitas.  Jangan lupa berlatih untuk event berikutnya. 



Share:

6 Februari 2019

TIM FUTSAL SMPN 1 AMUNTAI UTARA BERLAGA DI MANDA CUP 2019

Man 2 Amuntai-Tim SMPN 1 Amuntai Utara tidak mengusung target tinggi pada turnamen Futsal Manda 2019. Mengikuti turnament tersebut hanya dimaksudkan untuk mencari pengalaman bertanding, tetapi mereka dituntut untuk menampilkan permainan yang terbaik.

Tim Futsal SMPN 1 Amuntai Utara terdiri dari siswa kelas 8 dan 7. Adapun nama-nama pemain adalah sebagai berikut:

1. Muhammad Al Bakir
2. Muhammad Hidayat
3. Ahmad Zairullah
4. Muhammad Khaidir
5. Muhammad Saidi
6. Muhammad Saudi
7. Nurul Azmi
8. Kaspul Anwar
9. Muhammad Nahwan Adhari
10. Ilham Naza Al Qarni
11. Abdul Hadi
12. Bahran

Berlaga di babak penyisihan pada hari Kamis, 31 Januari 2019 melawan MTs Nurul Hidayah Kota Raden, Tim Futsal SMPN 1 Amuntai Utara memetik kemenangan 4 - 1. Pada pertandingan itu Muhammad Al Bakir melakukan hatrick dengan mencetak 3 gol, sedangkan 1 gol lainnya dicetak oleh Nurul Azmi. Tapi sayang pada pertandingan babak berikutnya melawan MTs Ukhuwah Banjang, Tim Futsal SMPN 1 Amuntai Utara mengalami kekalahan dalam adu finalti setelah sebelumnya bermain imbang 1 - 1. Tetap semangat dan selalu berlatih untuk event selanjutnya
Share:

PENGUMUMAN

- DOKUMENTASI PENGUMUMAN KELULUSAN BISA DIDOWNLOAD DIPOSTINGAN

- SULINGJAR GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TERTANGGAL 11-20 AGUSTUS 2022

Translate