15 Desember 2015
GURUKU
Kisah inspiratif tentang rasa syukur dan ucapan terima kasih seorang murid kepada gurunya.
*******
Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.
Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagai plakat penghargaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah. Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.
Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.
“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.
“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!” (sampai butut gak akan laku) kata pedagang akik di sebelahnya.
“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini”.
Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya. Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?
“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.“Saya butuh uang.”
“Apa isteri atau anakmu sedang sakit ?”
“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”
“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”
“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”
“Habis buat nyicil motor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”
Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .
“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.
“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”
Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.
Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.
Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya.
Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.
“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya dengan supirnya, ia sepertinya lelaki berduit yang kaya raya.
Pak Hamid tiba-tiba berharap.
“Ya...ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.
“Berapa bapak jual setiap satuannya?”
Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”
“Berapa, Pak?”
“Eee...tiga ratus ribu.”
“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”
Hah?? Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.
“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya ...”
Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam guru matematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.
“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”
“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.
“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yang berdiri megah tak jauh dari situ.
“Ya...ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.
Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.
Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.
Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.
“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.
Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.
Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.
“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”
Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan...plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.
Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.
"Pak Hamid yang saya cintai,Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak."
Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.
*******
Terima kasih tak terhingga untukmu guru-guruku ustadz2ku (dosen-dosenku), masyayikhku tercinta..., jasamu sungguh tak ternilai bagi kami..... Semoga pahala terus mengalir kepadamu para guruku, ustadzku (baik yg msh hidup maupun yg sudah tiada) sampai hari persidangan nanti di padang mahsyar
14 Juni 2014
DELAPAN BELAS DALAM KENANGAN
Guru hanyalah seorang manusia biasa yang dengan latar belakang
pendidikan gurunya, mendapatkan legitimasi untuk mengemban sebuah tugas
mencerdaskan anak bangsa. Guru memang dibekali dengan berbagai bekal
pengetahuan dan ketrampilan sesuai bidang masing-masing yang dengannya
ia bisa berdiri di depan kelas di hadapan puluhan pasang mata dengan
wajah masih lucu, lugu bahkan sedikit dungu. Guru dengan dengan berbagai
karakter yang dimiliki, akan menampilkan pembawaan yang berbeda di
hadapan setiap muridnya. Meskipun demikian, satu kesamaan yang tetap
dimiliki oleh guru adalah niat mulia untuk menjadikan anak muridnya
menjadi murid yang berpengetahuan, berbudi pekerti luhur serta memiliki
berbagai ketrampilan.
Murid adalah seorang manusia
yang dengan sadar menerima pelajaran dari seorang yang layak
memberinya pengetahuan, membimbing dan mengarahkannya ke arah yang lebih
baik. Pertemuan keduanya dalam waktu yang cukup lama dengan berbagai
macam pengalaman yang dialami, menjadi harmoni yang indah dan sangat
layak buat di kenang-kenang sebagai bagian dari sejarah hidup baik untuk
si guru maupun untuk murid itu sendiri. Guru dan murid menjadi dua
kesatuan yang secara batin mempunyai ikatan kuat. Ketiadaan salah
satunya mejadilah dua sosok itu tidak akan pernah ada.
Rentang
waktu pertemuan guru dan murid dalam suatu jenjang pendidikan, pastilah
akan dibatasi oleh masa belajar. Hari Sabtu, 24 mei 2014 di SMPN 1
Amuntai Utara telah dilaksanakan sebuah acara rutin yang juga sekaligus
menandai berakhirnya masa belajar buat siswa kelas IX. Ya...hari itu
murid kelas IX melangsungkan acara perpisahan dengan keluarga besar
SMPN 1 Amunta Utara. Bertempat disebuah ruangan sederhana dan dihadiri
oleh orang tua/wali murid kelas IX dan beberapa tamu undangan.
Sebagaimana
biasa, acara pertama adalah menyanyikan lagu yang setiap senin mereka
nyanyikan di lapangan saat mengadakan upacara bendera. Lagu Indonesia
Raya yang berkumandang pada sabtu, 24 Mei 2014 di ruangan sederhana
itulah menjadi saat terakhir mereka menyanyikannya di sekolah ini.
Mereka adalah Rifky Darma, Mujakir, Ahmad Nabawi, Rahmat Hidayat,
Mahruji Dinor, Muhammad Gazali , M. Norhakim, M. Husaini, Tajudinnor,
Ramadani Saputera, Tarmiji, Fikri Maulana, Muhammad Saman, Nurul Fajar,
Fatimah. Nadia Safitri, Helda Fitriani dan Diah Elya Sari.
JANJI
SISWA
Sebagaimana
peribahasa, tak ada satupun di dunia ini yang abadi. Setiap ada pertemuan tentu
ada perpisahan. Itulah yang terjadi hari ini. Makin panjang waktu merentang,
makin banyak rona hidup yang kita temui. Hari ini adalah puncak perjuangan
kalian dalam suatu episode. Namun, janganlah tenggelam dalam euforia yang tak
terbatas karena di depan sana sudah menanti rintangan yang lain, yang harus
kalian taklukkan !
Layar yang untuk
hari ini terkatup sesaat, besok kembali mengembang guna mengarungi samudera
yang lain, samudera kehidupan, menuju
pulau harapan. Hari ini kereta berhenti di sebuah halte, besok kembali berjalan
menuju terminal terakhir.
Sebelum
kalian mengikrarkan janji, Bapak selaku kepala sekolah berharap :
Jika nanti kalian meninggalkan sekolah ini jagalah nama
baik sekolah dimanapaun kalian berada. Gaungkan semangat ! Ukirlah prestasi sebanyak mungkin !
Bila kelak kalian telah berhasil, tataplah diri agar
mengerti siapa diri kalian sebenarnya.
Andai berjalan telah sampai ke batas, tengoklah ke
belakang, agar tahu dari mana kalian berasal.
Apabila yang dicari telah didapat, berbahagialah agar
hidup penuh makna.
Anak-anakku !
Sebaik-baik manusia
bukan orang yang berhasil, melainkan orang yang mampu berbagi pada sesama.
Nah.anak-anakku !
Bersediakah kalian
berjanji, agar dada kami makin lapang dalam melepas kalian ke belantara yang
lebih luas ? (dijawab serentak oleh semua siswa : BERSEDIA)
Jika
kalian bersedia, Ikutilah kalimat berikut !
·
Kami akan tetap
menjaga dan menjunjung martabat sekolah ini dimanapun kami berada.
· Kami akan selalu
mengingat dan mengamalkan petuah yang Bapak dan Ibu Guru berikan hingga nafas
kami berhenti.
·
Kami tidak akan
pernah melupakan jasa dan tetes keringat Bapak dan Ibu Guru dalam menyuburkan
jiwa kami yang semula tandus.
·
Kami tidak akan
berperilaku sombong manakala telah menjadi orang.
·
Kami tidak akan
pernah berhenti berjuang sebelum apa yang kami cari kami dapatkan.
·
Kami siap
memberikan apapun yang kami punya demi kebesaran nama sekolah ini.
Anak-anakku !
Kalian telah
mengucapkan janji yang didengar oleh Tuhan dan para malaikatNYA, begitu pula
kami yang hadir di sini.
Kami percaya,
kalian bukanlah manusia yang gampang melupakan janji.
"SELAMAT JALAN SEMOGA KEBEHASILAN HIDUP DAPAT KALIAN RAIH "HUT SMPN 1 AMUNTAI UTARA
Kami datang, kami bermain dan kami menang.
SMP Negeri 1
Amuntai Utara boleh terbilang sekolah cukup tua di kecamatan Amuntai Utara. Sekolah yang berdiri
pada tahun 1983 ini, di hari ulang tahun yang ke-31 kembali mengadakan
kegiatan lomba untuk siswa SD/MI se- kecamatan Amuntai Utara. Kegiatan
ini telah dilaksanakan pada tanggal 28 s.d 29 April 2014 dengan cabang
lomba : pertandingan futsal, pertandingan volley, membaca al-qur'an dan
membaca puisi. Dari 17 sekolah SD/MI yang ada berada di kecamatan
Amuntai Utara, sebanyak 11 sekolah turut berpartisipasi dalam kegiatan
ini.
Kegiatan lomba seperti ini sangat bermanfaat untuk
menggairahkan kompetisi berprestasi khususnya buat siswa sendiri
maupun sekolah pada umumnya. Harapan kami ke depan, kegiatan seperti ini
dapat terlaksana lagi dan tentu saja dengan cabang yang lebih banyak
dan lebih berkualitas.
22 Mei 2014
PENGUMUMAN ACARA PERPISAHAN
PENGUMUMAN
KEPADA SELURUH SISWA SMPN 1 AMUNTAI UTARA, DIBERITAHUKAN BAHWA ACARA PERPISAHAN SMPN 1 AMUNTAI UTARA AKAN DIADAKAN :
HARI/ TANGGAL : SABTU 24 MEI 2014
JAM : 08.30 S/D SELESAI
DIHARAPKAN PARTISIPASINYA DALAM MEMERIAHKAN ACARA.
ATAS PERHATIANNYA KAMI UCAPKAN TERIMA KASIH.

















